Teman atau Sahabat ?

Teman ?
Sahabat ?
Beberapa orang mengartikan dua hal ini berbeda. Teman yaitu seseorang yang dikenal. Sedangkan sahabat adalah seseorang yang begitu akrab dan dekat dengan kita.
Ada suatu pertanyaan tersirat dalam pikiranku, memangnya bagaimana kalian mengelompokkan kedua hal itu ke dalam kelompok yang berbeda?
Kadang aku merasa heran. Disaat seseorang sudah memiliki sahabat, orang tersebut seolah-olah membatasi interaksinya dengan yang lain. Everytime, everywhere, dalam keadaan apapun hanya dengan sahabatnya itu. Padahal dunia ini penuh dengan berbegai macam manusia. Yang bisa saja kita belajar dari orang-orang itu. Menurutku disaat seseorang sudah memutuskan atau menutup ruang interaksi dengan yang lain, sama saja dia telah menutup pintu dunia yang begitu luasnya.
Berkawanlah dengan siapa saja.
Memang benar kita harus pandai memilih kawan, agar hidup kita pun tidak salah dalam memilih jalan yang hendak ditelusuri. Namun, apakah tindakan “menutup” kepada yang lain itu bisa dibenarkan ? menganggap bahwa kita tidak memerlukan mereka. Siapa mereka ? hati-hati bisa timbul kesombongan diri.
Kenapa aku menuliskan hal ini?
Mungkin ini hanyalah argumen atau pendapatku saja.
Kita hidup di dunia ini tidak hanya dengan segelintir orang saja. Tapi berjuta-juta karakter manusia. Kita adalah makhulk sosial. Sulit rasanya untuk menghindari interaksi dengan yang lain. Saling membutuhkan, saling menolong, saling membantu, saling menghargai. Melihat pengalamanku selama ini. Seringkali rasanya membenci istilah “sahabat”. Entah karena belum menemukan yang sesungguhnya, atau belum menyadarinya. Banyak diantara mereka yang memiliki sahabat, malah seolah tidak perlu adanya interaksi dengan yang lain. Hanya dengan orang-orang tertentu saja. Atau kadang ada juga yang mungkin membicarakannya dibelakang. Apakah itu arti sahabat yang sebenarnya?
Pengertian yang selama ini aku pegang, sahabat adalah orang yang akan selalu bersama kita, disamping kita. Baik senang, seding, bagaimana pun keadaannya. Tapi dengan melihat keadaan yang seringkali terlihat, seolah-olah membatasi. Bagiku sahabat itu hanya suatu title. Yang kita butuhkan adalah teman. Meski hanya kenal, setidaknya tidak membuat kita menutup diri untuk berinteraksi dengan yang lain.
Lebih menyakitkan lagi, jika disaat kita menganggap orang lain itu adalah sahabat kita. Namun, ternyata yang sebenarnya orang itu menilai sebaliknya, dengan istilah lembutnya dengan sebutan teman. Hal ini lebih menyakitkan dari cinta bertepuk sebelah tangan.
Maka dari itu, aku disini selalu terbuka pada sesama. Aku menganggap kalian adalah temanku. Teman yang merangkap menjadi keluarga. Karena kita sesama makhluk ciptaan-Nya. Untuk menghindari adanya permusuhan, kebencian, kemunafikan. Inilah yang aku pilih. Berupaya untuk tidak membeda-bedakan siapa dia. Asalkan dia mau berteman denganku, mari berteman.
Semakin banyak teman, semakin banyak saudara.
Semakin erat pula tali silaturahim antar sesama makhluk ciptaan-Nya. 😊

Komentar