Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Bukan sebuah Puisi

Ini bukanlah puisi. Melainkan hanya untaian kata yang ingin tercuap. Namun tak mampu diucapkan. Diawali dengan permohonan maaf dariku. Atas tindakan yang aku lakukan. Aku memilihnya karena ini adalah pilihan yang terbaik. Selama ini aku mampu mengendalikannya, tapi entah kenapa hari itu tidak bisa. Aku bercerita pada temanku. Dan aku disarankan untuk melakukan apa yang sudah aku lakukan. Itu semua demi kebaikan. Kejam ? mungkin bisa dikatakan iya. Karena aku tak meninggalkan pesan alasan. Selama ini ku diam. Karena tak pandai berkata. Hanya bisa berdoa. Karena semua yang terjadi atas kehendak-Nya. Agar semua tidak hanya harapan. Karena harapan pada manusia itu menyakitkan, lebih baik serahkan saja kepadaNya. Meski entah akan bersama atau tidak. Janganlah sampai ada pertikaian, karena keindahan akan terlihat dalam ikatan persaudaraan. Kebahagiaan yang pernah dirasakan. Biarlah itu menjadi kenangan. Kenangan yang harus segera dilupakan. Agar bisa menata kembali kebahagiaan di m...

Kerja : Uang atau Mengabdi ?

Kali ini aku berbicara mengenai istilah kerja. Kalo kata KBBI, kerja berati melakukan sesuatu. Diartikan juga sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah. Tidak salah jika banyak orang yang bekerja hanya memiliki pemikiran money oriented. Aku disini sebagai mahasiswa belum mengerti betul seperti apa yang sebenarnya problematika kerja itu. Saat ini aku masih dikuasai oleh pemikiran idealis. Yang dimana bahwa kerja itu adalah salah satu upaya untuk mengabdi, bukan hanya mencari uang. Itu hanya bonus. Entah aku akan tetap idealis seperti itu atau tidak di suatu hari nanti. Maka dari itu, maaf saja jika perkataanku terlalu idealis hha... Setelah kuliah selesai tentu ada pemikiran akan kerja di mana nanti ? pemikiran yang akan menghantui para mahasiswa tingkat akhir, yang mulai berpikir bahwa harus ada feed back selesai kuliah ini. Ibarat kata, membalas jasa orang tua. Setidaknya memberi sedikit nafkah atas kerja keringat sendiri. Sebenarnya tidak perlu menunggu lulus kuliah untuk kerja a...

Teman atau Sahabat 2

Kini aku ingin melanjutkan ceritaku tentang Teman atau Sahabat ? Aku berkata, ku anggap semua orang di sekitarku adalah teman. Teman yang bukan hanya sekedar kenal. Hei kawan, jangan kau merasa minder atau benci kepada diriku. Karena aku hanya memberikan title teman bukan sahabat. Aku hanya ingin kau tak sakit hati karenaku. Aku takut jika aku memberikan title sahabat, aku tak selalu bersamamu. Aku tak memberikanmu support jika kau berada di keadaan yang terpuruk, disaat aku tak tahu. Aku akan mendoakanmu. Tenanglah, aku memngganggapmu saudaraku. Ingatlah kalimat yang pernah aku tulisan di cerita sebelumnya. Banyak teman sama dengan banyak saudara. Dan aku suka itu. Aku tidak ingin menjadi pemisah antara kau dengan yang lainnya. Disaat kau bahagia. Aku ikut bahagia. Meski mungkin aku tahu bukan dari kau secara langsung. Disaat kau sedih, aku akan mendoakanmu. Agar Allah segera memutarbalikan keadaan hatimu. Aku berbeda dengan yang lain. Maafkan. Aku tak banyak bercerita denganmu....

Teman atau Sahabat ?

Teman ? Sahabat ? Beberapa orang mengartikan dua hal ini berbeda. Teman yaitu seseorang yang dikenal. Sedangkan sahabat adalah seseorang yang begitu akrab dan dekat dengan kita. Ada suatu pertanyaan tersirat dalam pikiranku, memangnya bagaimana kalian mengelompokkan kedua hal itu ke dalam kelompok yang berbeda? Kadang aku merasa heran. Disaat seseorang sudah memiliki sahabat, orang tersebut seolah-olah membatasi interaksinya dengan yang lain. Everytime, everywhere, dalam keadaan apapun hanya dengan sahabatnya itu. Padahal dunia ini penuh dengan berbegai macam manusia. Yang bisa saja kita belajar dari orang-orang itu. Menurutku disaat seseorang sudah memutuskan atau menutup ruang interaksi dengan yang lain, sama saja dia telah menutup pintu dunia yang begitu luasnya. Berkawanlah dengan siapa saja. Memang benar kita harus pandai memilih kawan, agar hidup kita pun tidak salah dalam memilih jalan yang hendak ditelusuri. Namun, apakah tindakan “menutup” kepada yang lain itu bisa diben...

Bersyukur

ingin memulai untuk mencintai istilah menulis. bercerita tentang apapun yang ada di pikiran dan yang terlintas. bukan seorang blogger handal dan pendongeng yang cantik. hanya seorang ati. pernah iri kepada orang lain? Alasan apa sehingga kamu iri kepada orang lain? Apakah karena mereka sukses ? Apakah karena mereka hebat ? Apakah karena mereka mendapat kebahagiaan setiap hari ? Apakah karena mereka mendapat gaji yang besar ? Itu yang kita lihat dari seseorang. Seringkali kita melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain. Kadang merasa down ketika kita sangat jauh posisinya dengan mereka. Salahkah kita melihat orang yang berada di atas kita ? Hal ini tidak salah. Namun menjadi salah disaat hal itu hanya membuat kita bilang ‘ih gila dia keren dapat juara 1’, ‘dia mah emang orang hebat pantaslah mendapatkan penghargaan itu’, tanpa berbuat sesuatu yang lebih bermakna dalam hidup kita. Kadang hal itu juga bisa membuat seseorang jauh dari Tuhan Yang Maha Segalany...