Sang Melankolis v.s Plegmatis

Aku ingin menuliskan ini, karena ini adalah konflik terbesar yang pernah aku alami.
Sebagai pengantar, aku merupakan orang yang memiliki kepribadian melankolis dan plegmatis. Terkadang ekstrovert kadang juga introvert. Kedua hal ini berimbang, entah aku mungkin termasuk orang yang aneh dimata orang lain. Aku mungkin pintar dalam berperan. Berperan menutupi segala hal permasalahan yang terjadi dalam hidupku. Sehingga, sedikit orang yang tau bagaimana aku berproses. Hanya beberapa orang yang aku percaya yang bisa menjaga rahasia, dan bisa memberikanku ketenangan atas masukan-kritikan untuk diriku yang lebih baik. Perang batin sering aku alami, pertumpahan air mata pun tak tanggung-tanggung. Tak kenal waktu, tak kenal lelah, air terus mengalir, sebelum pemikiran positif memenangkannya. Seperti hari ini, aku sedang merasa banyak tekanan yang ternyata jika dipikirkan itu hanya atas khayalan ku saja. Seorang melankolis yang dikenal “perfectionist” dan ingin segera tuntas inilah yang memulai. Sedangkan disisi lain si Plegmatis yang tenang, menjadi tandingannya. Tekanan ini lahir karena aku sedang mengerjakan suatu kewajiban seorang mahasiswa dan seorang anak dari ibu-bapa. Perang semakin menjadi ketika “keegoisan” datang. Semakin rumitlah perang itu. Muncaklah ketika, kewajiban sebagai anak dan kewajiban mahasiswa tidak tertangani dengan baik. Bahkan jika emosi ini tidak dikendalikan, fatal. Hampir saja aku berfikir untuk berfoya-foya untuk menghilangkan kepenatan, rencana beli es krim setelah taraweh, ahh alasan klasik yang pada nyatanya belum tentu memberikan ketenangan. That is only ‘hawa nafsu’. Hampir aku melupakan kuasa Allah, padahal selama ini aku sedang berupaya untuk terus memperbaiki diri. Hampir saja aku meragukan kuasa-Nya. Padahal sudah jelas semua yang terjadi dalam hidup ini adalah atas ketentuan-Nya. Jika kita memiliki prasangka buruk pada-Nya, ini sudah mendekati fatal.
Menangis terkadang perlu, ketika sudah diujung konflik. Namun, jangan terallu terpuruk akan kesedihan itu. Bangkit dan terus bangkit !!!!
kamu adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal. Tak perlu pandang orang lain yang sudah berangkat lebih dulu. Mungkin Allah belum mengijinkanmu berangkat sekarang, Allah memiliki suatu kejutan yang indah atas apa yang terjadi padamu saat ini. Kelemahanmu yang lebih dominan akan perasaaan, akan menjadi suatu senjata suatu saat nanti. Senjata yang belum tentu dimiliki oleh orang lain. Teruslah memperbaiki diri. Dekatkan dirimu padaNya, Mungkin Allah ingin kamu lebih dekat lagi dengannya.
Tenang dan Kendalikan Emosimu, semua akan berjalan dengan lancar. InsyaAllah


Komentar