Profesi sementara 'Pengacara'
Pengacara (read : pengangguran banyak acara) merupakan salah satu profesi yang saya alami setelah menyelesaikan studi.
Loh, apa ga kerja ?
Jawabannya, belum dan mohon doanya 😁.
Kenapa belum? Apakah tidak melamar ke perusahaan atau tempat kerja lainnya?
Jawabanku, sudah tapi bukan rejekinya di perusahaan itu. Sedang ikhtiar lagi untuk daftar CPNS (mohon doanya 😁 semoga lolos segala tahapan seleksi).
Apa ga usaha buat membuka tempat kerja? Ya semacam wirausaha atau start-up seperti yang sedang banyak dilakukan oleh makhluk-makhluk milenial lainnya?
Penjelasannya, saya ada keinginan membuat startup, tapi ada kekurangan dan hambatan yang ada dalam diri saya dan hal itu setelah ditelusuri lebih dalam solusinya ada dalam diri saya. Namun, sayangnya belum mendapat keputusan terbaik untuk ke depannya.
Kadang lebih berfikir, kenapa tidak mengotimalkan saja bekerja sama dengan startup yang sudah ada?
Bersama lebih baik kan?
Adapula hambatan untuk memulai nya adalah mendapatkan partner yang se-visi dan mau bekerja sama dengan saya sepenuh hati, rela mengorbankan segalanya, tapi itu tidak mudah.
Toh, setiap orang memang memiliki prioritas yang ingin dicapainya kan ?
Kita tidak bisa merubah, atau sedikit mengkontaminasi kesibukannya, karena itu hanya membuat diri kita lelah pikiran dan hati sendiri.
Disisi kita uang mengajak untuk bekerja sama, disisi harus memahami bagaimana tipe dia berpikir dalam masa depannya.
And then, yang utama adalah masalah dudung (read duit), modal untuk memulainya....
Pastilah normal, seseorang mengharapkan adanya feed back berupa dudung. Hidup ga gratis kan ? Perlu ini dan itu ?
....
Itulah Sekilas membahas kenapa sampai saat ini saya menjabat sebagai Pengacara di kantor milik keluarga (read rumah)
Kegiatan atau program-program yang saya lakukan banyak kok ga sedikit.
Kadang saya kesel sendiri.
Ya kebawa emosi, (kadang),
Tapi ada hikmah yang menurut saya itu positif.
Hikmah yang saya ambil adalah menjadikannya sebagai proses belajar menjadi ibu rumah tangga, ya namanya perempuan sebagai calon istri seseorang nanti, kita harus mempersiapkan mental dong untuk menghadapi kehidupan nyatanya suatu hari nanti?
Sebelum menjadi wanita karir, belajar ngurus rumah dulu. Disaat nanti diawal-awal karir, belajar deh rasanya beban menjadi wanita yang bekerja.
Dengan kombinasi yang seperti itu, maka bisa dijadikan pembelajaran nanti ketika menikah.
Menikah dulu atau kerja dulu?
Jawaban saya sih, Allah Maha Mengetahui, mana yang terbaik untuk hambanya.
Kita cuma berusaha dan berdoa, betul?
Ttd
Akar
Kalo ada yang mau sharing, boleh balas saja dikomentar, nanti saya PC via email 😊
~Saran dan Tanggapan, sangat ditunggu oleh Penulis ~
Loh, apa ga kerja ?
Jawabannya, belum dan mohon doanya 😁.
Kenapa belum? Apakah tidak melamar ke perusahaan atau tempat kerja lainnya?
Jawabanku, sudah tapi bukan rejekinya di perusahaan itu. Sedang ikhtiar lagi untuk daftar CPNS (mohon doanya 😁 semoga lolos segala tahapan seleksi).
Apa ga usaha buat membuka tempat kerja? Ya semacam wirausaha atau start-up seperti yang sedang banyak dilakukan oleh makhluk-makhluk milenial lainnya?
Penjelasannya, saya ada keinginan membuat startup, tapi ada kekurangan dan hambatan yang ada dalam diri saya dan hal itu setelah ditelusuri lebih dalam solusinya ada dalam diri saya. Namun, sayangnya belum mendapat keputusan terbaik untuk ke depannya.
Kadang lebih berfikir, kenapa tidak mengotimalkan saja bekerja sama dengan startup yang sudah ada?
Bersama lebih baik kan?
Adapula hambatan untuk memulai nya adalah mendapatkan partner yang se-visi dan mau bekerja sama dengan saya sepenuh hati, rela mengorbankan segalanya, tapi itu tidak mudah.
Toh, setiap orang memang memiliki prioritas yang ingin dicapainya kan ?
Kita tidak bisa merubah, atau sedikit mengkontaminasi kesibukannya, karena itu hanya membuat diri kita lelah pikiran dan hati sendiri.
Disisi kita uang mengajak untuk bekerja sama, disisi harus memahami bagaimana tipe dia berpikir dalam masa depannya.
And then, yang utama adalah masalah dudung (read duit), modal untuk memulainya....
Pastilah normal, seseorang mengharapkan adanya feed back berupa dudung. Hidup ga gratis kan ? Perlu ini dan itu ?
....
Itulah Sekilas membahas kenapa sampai saat ini saya menjabat sebagai Pengacara di kantor milik keluarga (read rumah)
Kegiatan atau program-program yang saya lakukan banyak kok ga sedikit.
Kadang saya kesel sendiri.
Ya kebawa emosi, (kadang),
Tapi ada hikmah yang menurut saya itu positif.
Hikmah yang saya ambil adalah menjadikannya sebagai proses belajar menjadi ibu rumah tangga, ya namanya perempuan sebagai calon istri seseorang nanti, kita harus mempersiapkan mental dong untuk menghadapi kehidupan nyatanya suatu hari nanti?
Sebelum menjadi wanita karir, belajar ngurus rumah dulu. Disaat nanti diawal-awal karir, belajar deh rasanya beban menjadi wanita yang bekerja.
Dengan kombinasi yang seperti itu, maka bisa dijadikan pembelajaran nanti ketika menikah.
Menikah dulu atau kerja dulu?
Jawaban saya sih, Allah Maha Mengetahui, mana yang terbaik untuk hambanya.
Kita cuma berusaha dan berdoa, betul?
Ttd
Akar
Kalo ada yang mau sharing, boleh balas saja dikomentar, nanti saya PC via email 😊
~Saran dan Tanggapan, sangat ditunggu oleh Penulis ~
Komentar
Posting Komentar